Zinedine Zidane semakin memperkuat statusnya sebagai kepala pelatih kelas dunia setelah menjuarai Piala Super Spanyol 2019/20. Perubahan format Piala Super Spanyol membuat kompetisi tersebut tak lagi bisa disebut sebagai uji coba yang dibesar-besarkan, namun memang sebuah turnamen yang layak diperjuangkan. Mengalahkan Atletico Madrid di Arab Saudi (13/1), rekor Zidane di partai final terjaga di angka 100%, sembilan kali melaju ke partai puncak semuanya berhasil dimenangkan. Tapi rekor tersebut tak mungkin terjaga jika Federico Valverde tidak melakukan professional foul ke Alvaro Morata di menit ke-115.

Valverde sebenarnya sudah lebih dulu mendapatkan kartu kuning karena memprotes keputusan wasit untuk memberikan Atletico Madrid tendangan bebas dari duel Dani Carvajal dan Santiago Arias. Namun, saat ia menghentikan secara paksa Alvaro Morata, Jose Sanchez selaku pengadil pertandingan langsung memberikan kartu merah kepada Valverde. Bukan kartu kuning kedua, langsung merah!

Kepala Pelatih Atletico Madrid Diego Simeone sempat menghampiri Valverde di pinggir lapangan. Nakhoda asal Argentina itu tidak memaki Valverde karena telah menghentikan peluang emas dari Morata secara paksa. Dirinya justru memberi dukungan moral untuk pemain kelahiran 22 Juli 1998 tesebut.

VIDEO: Highlights Final Piala Super Spanyol

Simeone tahu bahwa Valverde harus melanggar Morata untuk memberikan Real Madrid kesempatan meraih gelar juara. Sekalipun kartu merah menjadi bayarannya. Zidane juga setuju dengan pendapat Simeone. Berkat Valverde, Real Madrid pun bisa memaksa pertandingan hingga adu penalti dan jadi juara Piala Super Spanyol 2019/20.

Aksi Valverde tersebut dikenal dengan istilah ‘professional foul’ atau pelanggaran profesional. Walaupun istilah ini tidak pernah digunakan secara resmi, sejarahnya bisa ditarik kembali hingga 1980. Tepatnya di final Piala FA antara West Ham United kontra Arsenal. Pertandingan itu dimenangkan West Ham dengan skor 1-0. Sebuah kejutan mengingat the Hammers adalah penghuni divisi dua Inggris, sementara Arsenal adalah juara bertahan Piala FA.

Sejak mengalahkan Aston Villa di ronde keenam, West Ham memang mulai diperhitungkan. Pasalnya, the Villans masih berstatus penghuni papan atas divisi utama Inggris di era 80-an. Mereka bahkan memecahkan rekor transfer pemain untuk membeli Andy Gray dari Wolverhampton Wanderers. Mereka kalah 1-0 dari penghuni divisi dua, West Ham. Setelah Aston Villa, giliran Everton yang diperkuat Brian Kidd dan Robert Lachtford menjadi korban di semi-final.

Bertemu Arsenal di partai puncak, hanya sedikit yang memprediksi West Ham bisa melanjutkan kejutan mereka. Peluang itu tetap dilihat, tapi lebih karena faktor kelelahan Arsenal. Pertandingan final Piala FA adalah laga ke-67 the Gunners di musim 1979/80. Baru 13 menit pertandingan berjalan, sundulan Trevor Brooking berhasil menyundul bola, melewati Pat Jennings. West Ham unggul 1-0.

Arsenal berusaha menyamakan kedudukan. Namun justru West Ham yang kembali mendapat peluang emas. Sebagaimana dideskripsikan oleh Steven Pye dari the Guardian, Arsenal kehilangan bola ketika sedang berusaha menyamakan kedudukan. West Ham kemudian melancarkan serangan balik yang tak bisa dibendung oleh pemain-pemain Arsenal karena kelelahan.

VIDEO: Pelanggaran profesional yang dilakukan Willie Young kepada Paul Allen di Final Piala FA 1980

Gelandang 17 tahun the Hammers, Paul Allen tinggal berhadapan dengan Jennings. Ia berpeluang besar untuk mencetak gol, dan mencatatkan namanya ke buku sejarah klub untuk selama-lamanya. Namun, bek Arsenal, Willie Young, tidak mau membiarkan seorang remaja dari kesebelasan divisi dua mempermalukan timnya. Allen yang sudah berlari bebas menuju kotak penalti Arsenal dijatuhkan oleh Willie Young melalui tekelnya dari belakang. Wasit meniup peluit memberikan tendangan bebas kepada West Ham serta kartu kuning bagi Young. West Ham kemudian gagal menambah keunggulan melalui tendangan bebas, namun skor 1-0 tidak berubah hingga akhir pertandingan dan mereka berhasil meraih gelar Piala FA saat itu.

Allen saat itu adalah pemain termuda yang pernah tampil di final Piala FA. Bayangkan apabila ia juga menjadi penentu kemenangan West Ham atas Arsenal. Bagaimana pun hasil kariernya setelah itu, gol di final Piala FA melawan Arsenal akan selalu diceritakan. “Saya masih ingat menyaksikan laga itu di televisi. Saya kecewa setelah melihat aksi Young kepada Allen. Semua orang kecewa, komentator pertandingan juga merasakan hal yang sama,” kata Simon Kuper, penulis buku sepakbola seperti ‘Ajax, the Dutch, the War’, ‘Soccernomics’, dan lain-lain.


Young adalah tembok utama pertahanan Arsenal. Duetnya bersama David O`Leary membuat klub asal London Utara itu hanya kebobolan 36 kali di divisi utama 1979/80. Duduk di peringkat empat klasemen di akhir musim, the Gunners menyandang status sebagai tim dengan pertahanan terbaik ketiga di liga. Hanya Manchester United (35) dan Liverpool (30) yang punya pertahanan lebih baik.

Sebelum melanggar Allen, Young pun sadar bahwa aksinya kemungkinan besar akan membuat dia diusir dari pertandingan. “Saya hanya punya sepersekian detik. Peluang untuk Allen cetak gol sangat besar jadi saya melakukannya. Saya adalah seorang pemain bertahan. Tugas saya adalah untuk mempertahankan tim. Saya tahu pelanggaran itu akan membuat saya diusir. Saya berkata kepada diri sendiri, ‘Baiklah nak, Anda akan keluar dari lapangan’. Tapi itu bukanlah pelanggaran yang brutal,” jelas Young.

“Allen juga menanggapi pelanggaran tersebut dengan santai. Dia mengatakan bahwa dirinya juga akan melakukan hal serupa jika ada di posisi saya,” lanjut Young. Arsenal mungkin gagal menjuarai Piala FA 1980. Young juga tidak mendapatkan kartu merah karena pelanggarannya tersebut. Hanya kartu kuning yang ia dapat. Tapi pelanggaran tersebut mengubah sepakbola.

Mulai dari Daily Mail hingga Guardian menekan Asosiasi Sepakbola Inggris untuk mengubah peraturan. Kartu kuning dan tendangan bebas tidak lagi dirasa cukup waktu pemain yang melakukan pelanggaran secara sadar ingin merusak peluang emas lawan. Badan Liga Inggris akhirnya mengadakan diskusi untuk membahas hal ini. Dipimpin oleh Presiden Asosiasi Pemain Profesional Jimmy Hill, mereka mengundang Bobby Charlton dan Matt Busby untuk melakukan dialog.

Hasilnya, pelanggaran yang dilakukan secara sengaja untuk mematikan peluang emas lawan akan diberi kartu merah sebagai hukuman. Meskipun, wasit bisa menentukan apakah peluang yang dihentikan itu ‘emas’ atau bukan. Jika mengikuti Laws of the Game milik FIFA, ada di peraturan ke-12, bagian pertama, tentang pelanggaran. Peraturan tersebut berbunyi:

“Seorang pemain akan diusir dari pertandingan jika bertindak terlalu berlebihan, melakukan hal bodoh atau ceroboh untuk menghentikan peluang emas lawan untuk mencetak gol. Wasit bisa melihat apakah itu peluang emas atau bukan dengan mempertimbangkan jarak pemain yang sedang menyerang dengan gawang dan kemungkinan bola masuk ke gawang”.

“Semakin dekat jarak dengan gawang, peluang diusir akan lebih besar. Namun, hal ini tak berlaku untuk pemain yang sengaja mengontrol bola dengan tangan untuk menghentikan peluang lawan”.

Berdasarkan peraturan ini, professional foul tidak selalu berakhir dengan kartu merah. Contohnya, saat Everton menjamu Chelsea di 2013, the Toffees punya peluang emas untuk mencetak gol setelah sukses menghalau bola yang masuk ke kotak penalti mereka. Bola diarahkan ke Kevin Mirallas yang seorang diri berdiri di tengah lapangan. Kemudian ketika dirinya baru mau masuk ke daerah pertahanan the Blues, ia dijatuhkan dengan paksa oleh David Luiz. Tapi Luiz hanya mendapatkan kartu kuning.

Beda dengan Luiz yang menjatuhkan Mirallas di tengah lapangan, Fede Valverde melanggar Morata tepat sebelum mantan penyerang Chelsea tersebut memasuki kotak penalti Real Madrid. “Semakin dekat jarak dengan gawang, peluang diusir semakin besar,” kartu merah pun diterima Valverde. “Saya meminta maaf kepada Morata setelah kejadian itu. Dia tahu itu satu-satunya yang dapat saya lakukan. Dirinya sangat cepat,” kata Valverde setelah pertandingan.

Meskipun sepakbola sudah mengalami banyak perubahan sejak 1980, professional foul masih tetap hidup di atas lapangan. Aksi ini jelas berbahaya dan layak untuk mendapatkan peringatan dari wasit. Pasalnya, tidak semua pemain bisa memiliki keberuntungan seperti Paul Allen dan Morata. Lihat saja nasib Bruno Silva setelah dilanggar Arthur Cunha di pertandingan antara PSIS Semarang melawan Arema FC pada Februari 2018.

Cunha sebenarnya hanya melakukan professional foul. Mengambil langkah paling masuk akal baginya, mengingat Silva akan bersih di depan gawang apabila tidak dihalangi. Namun kekuatan jegalan Cunha, kecepatan Silva, ditambah pendaratan yang buruk membuat penyerang asal Brasil itu harus dilarikan ke rumah sakit. Padahal, tujuan utama professional foul adalah mematikan peluang, bukan melukai lawan.