El Clasico pertama musim kompetisi 2019/2020 antara FC Barcelona vs Real Madrid, yang awalnya dijadwalkan pada pekan ke-10 La Liga, batal digelar. Penyebabnya, isu keamanan menyusul gelombang demonstrasi di kota Barcelona.

Aksi protes didorong oleh penangkapan sembilan pemimpin gerakan kemerdekaan Catalunya. Mereka dianggap bersalah atas referendum–yang dianggap ilegal oleh pemerintah Spanyol–pada 2017.

Para tokoh yang dilabeli sebagai “separatis” tersebut dijatuhi hukuman penjara antara sembilan hingga 13 tahun. Bentrok dan aksi kekerasan antara demonstran dan polisi tak terelakkan. Hal ini memaksa Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) dan La Liga menunda pertandingan hingga 18 Desember 2019.

VIDEO: Gol pertama Lionel Messi di El Clasico

Keputusan RFEF dan La Liga mengundang tanya. Pasalnya, baik Barça maupun Madrid sebenarnya ingin laga berjalan sesuai jadwal. Terlebih, pertandingan antara Espanyol dengan Villarreal di Stadion RCDE tetap berlangsung pada 20 Oktober 2019.

Apakah ada motif politik di balik penundaan ini? Misalnya, tidak ingin ada pesan-pesan berbau politik terpampang di Stadion Camp Nou, seperti yang terjadi dalam laga lanjutan penyisihan grup Liga Champions melawan Inter Milan pada 2 Oktober 2019. Sekelompok suporter Barça membentangkan spanduk bertuliskan `Hanya kediktatoran memenjarakan pemimpin politik yang damai`.

Barça sendiri menyatakan dukungan terhadap sembilan politisi yang ditangkap secara terbuka. “Penjara bukanlah solusi. Pemecahan masalah di Catalunya harus datang dari dialog politik,” tulis mereka dalam pernyataan resminya pada 14 Oktober 2019. “Klub meminta kepada seluruh pemimpin politik memulai proses dialog dan negosiasi untuk menyelesaikan masalah ini, yang juga berarti membebasakan para warga dan pemimpin politik yang dinyatakan bersalah.”

Presiden RFER, Luis Rubiales, menyangkal ada peran pemerintah Spanyol di balik keputusan ini. Bagaimanapun, mengingat El Clasico adalah salah satu pertandingan sepakbola terpopuler di dunia-menurut CNN disaksikan oleh 650 juta orang di lebih dari 180 negara-mudah untuk berasumsi La Liga (yang presidennya, Javier Tebas, adalah pendukung partai ultra-kanan, VOX) tak ingin citranya ternoda oleh pesan politik di dalam stadion.

Kecemasan La Liga dan RFER terhadap potensi adanya pesan politik tentu juga dapat dipahami. Lawan Barcelona adalah Madrid, klub yang dipandang sebagai perwakilan pemerintah Spanyol. (Hampir) tidak ada momentum yang lebih pas dari El Clasico.

Bek Gerard Pique, melalui akun Twitter pribadinya, mengatakan “Bangga menjadi bagian dari klub ini” setelah Barça mengeluarkan pernyataan resmi. Ia memang vokal atas dukungannya terhadap Catalunya.

Ketika Barça memutuskan bermain melawan Las Palmas tanpa penonton menyusul aksi kekerasan polisi terhadap warga Catalunya dalam referendum dua tahun silam, Pique sempat menolak bermain. “Ini adalah pengalaman terburuk (dalam karier saya),” ucapnya sesudah laga, matanya berkaca-kaca. “Kami bukan orang jahat. Kami hanya ingin melakukan pemungutan suara.”

Dua pengurus klub, Carles Vilarrubi dan Jordi Mones, mengundurkan diri. Mereka merasa keputusan tersebut berlawanan dengan moto `Mes que un club` (`Lebih dari sebuah klub`).

VIDEO: Ketika Real Madrid menghancurkan Barcelona di Semi Final Copa Del Rey

“Itu bukan sekadar slogan. Itu adalah deklarasi atas sebuah prinsip,” ucap mantan presiden Barça, Joan Laporta, seperti yang dikutip Sid Lowe dalam bukunya Fear and Loathing in La Liga: Barcelona vs Real Madrid.

Prinsip yang dimaksud adalah Barça sebagai perwakilan Catalunya melawan pemerintahan Spanyol; Jenderal Francisco Franco beserta segenap peninggalannya. Sebagaimana cerita anggota parlemen Catalunya, Toni Strubell i Trueta, yang sering diucapkan ayahnya ketika mengasingkan diri ke Inggris semasa kepemimpinan Franco, hari ketika Camp Nou mengumandangkan kemerdekaan akan menjadi hari kemerdekaan tiba. Beberapa menganggapnya sebagai ramalan.


Sejak Franco meninggal dunia pada 1975, narasi berkembang luas, tetapi tidak pernah keluar dari kerangka Barça sebagai entitas bangsa Catalunya. “Dalam level tertentu, hal itu benar adanya,” tutur Laporta. “Ini adalah pertemuan olahraga dengan konotasi politik. Madrid selalu menjadi representasi dan kami selalu menjadi representasi Catalunya.”

Anda tidak perlu menjadi orang Catalunya untuk memahaminya. Mantan penyerang Barça, Hristo Stoichkov, mengatakan bahwa pertemuan antara Barça dengan Madrid tak ubahnya “pemberontak melawan penguasa”. Sir Bobby Robson, yang menangani Blaugrana dari tahun 1996 hingga 1997, pernah mengklaim “Catalunya adalah sebuah negara dan Barcelona adalah tentaranya”.

Kebencian Catalunya terhadap pemerintah Spanyol bukan tak berdasar. Mereka mengalami-seperti yang ditulis Strubell dalam sebuah surat terbuka-genosida kultural. Bahasa Catalunya dilarang, buku-buku disita dan dibakar pada masa kepemimpinan Franco.

Sebanyak 85% suporter Barça sepakat identitas mereka ditelanjangi secara sistematis di bahwa rezim Franco. Hal ini terungkap melalui pemungutan suara yang dilakukan pada perayaan 100 tahun klub.

Pertanyaannya: Bagaimana kebencian terhadap Franco dan kebencian terhadap Real Madrid setali tiga uang?

Berbeda dengan Barça yang mengibarkan Senyera (bendera Catalunya) secara bangga, Madrid tidak pernah memproklamirkan diri sebagai klub pemerintah. Menurut sudut pandang mantan presiden klub, Ramon Calderon, Madrid adalah “representasi kesuksesan”.

Bagi Madrid, mereka senorio (elegan). Bagi Barça dan Catalunya, Madrid chulo (arogan).

Perlu dipahami bahwa narasi rivalitas Barça-Madrid jauh berbeda ketika keduanya bertemu untuk yang pertama kali di lapangan Pacuan Kuda Madrid pada 13 Mei 1902. Hanya sekitar 200 orang datang menonton, duduk menggunakan bangku yang dipinjam dari pasar El Rastro.

Sosiolog Catalunya, Luis Flaquer, memiliki penilaian tersendiri atas rivalitas Barça-Madrid. “Anda tidak bisa berteriak `Franco, Anda adalah seorang pembunuh!` di jalanan. Alih-alih, mereka meneriakkan hal tersebut kepada pemain Madrid. Ini adalah sebuah fenomena psikologi,” ucap dirinya.

Flaquer ada benarnya. Bahkan, faktanya, sebelum Franco memenangi perang sipil pada 1939, Barcelona dan Madrid (baik sebagai klub maupun kota) sama-sama merupakan poros kekuatan republik.

Baca juga:

Josep Sunyol dan Awal Kelahiran Mes Que Un Club

Melincungi Madrid, Melindungi Catalunya