Ching, Ching, bling, bling.. Akhirnya Asosiasi Sepakbola Spanyol (RFEF) berhasil mewujudkan mimpi mereka, menjadikan Supercopa de Espana atau Piala Super Spanyol lebih dari sekedar laga eksibisi. Meskipun keputusan itu membuat berbagai pihak pusing, perebutan piala yang biasanya jadi tanda akan dimulainya musim kompetisi baru kini menjadi ladang uang.

Piala Super Spanyol sebelumnya sama seperti turnamen lain yang menggunakan nama serupa. Jawara liga memperebutkan gelar dengan juara turnamen domestik untuk menentukan siapa yang lebih layak disebut penguasa. Sayangnya, seiring perjalanan waktu anggapan itu dianggap kuno. Juara liga selalu dianggap lebih layak disebut kesebelasan terbaik. Mereka telah membuktikan diri selama satu musim melawan semua peserta untuk jadi juara. Beda dengan jawara turnamen yang hanya bertemu empat, lima, mungkin enam kesebelasan sebelum mengangkat piala.

Tapi karena sudah menjadi tradisi, perebutan piala super tetap dilakukan di berbagai negara. Kemudian muncul terminologi “glorified friendly” alias laga persahabatan yang dibesar-besarkan. Akhirnya, partai antara dua “kesebelasan terbaik” tak lagi berarti. Apalagi saat sebenarnya hanya satu kesebelasan yang berhasil menjuarai kompetisi domestik. Baik itu liga ataupun turnamen. Membuat jatah piala super diisi oleh peringkat dua yang sudah terbukti kalah kelas dibandingkan Sang Juara.

Piala Super Spanyol sebenarnya selalu sedikit lebih unik dibandingkan Italia, Inggris (Community Shield), dan negara-negara lainnya. Sejak 1982, Piala Super Spanyol selalu diperebutkan dalam dua leg. Jawara Copa del Rey alias Piala Raja diberi kesempatan untuk jadi tuan rumah terlebih dulu sebelum bertamu ke kandang juara liga. Beda dengan mayoritas piala super yang hanya dilakukan sekali dan biasanya di tempat netral.

Masalah kemudian muncul ketika juara liga menjadikan jatah kandang mereka sebagai senjata utama. Bermain tanpa beban di pertandingan pertama karena tahu besar peluang untuk membalikkan keadaan saat berlaku sebagai tuan rumah nantinya. Sejak 2010, hanya sekali perwakilan Piala Raja yang berhasil menghalangkan juara liga. Athletic Club berhasil mengalahkan juara La Liga, FC Barcelona di Piala Raja 2015. Mereka bukan juara Piala Raja 2015, hanya mengisi pos itu karena Barcelona juga jadi juara turnamen di 2014/15. Piala Super jelas masuk ke kabinet klub asal Kota Bilbao tersebut, tapi tidak mempengaruhi status Barcelona sebagai penguasa Spanyol saat itu. Lagi-lagi, hanya sekedar uji coba.

Perubahan Format

Mulai 2020, format kompetisi Piala Super Spanyol pun diubah. Piala Super Spanyol tak lagi diperebutkan oleh juara La Liga dan Copa del Rey, tapi diisi empat kesebelasan. Dibentuk sebagai kompetisi tersendiri, bukan lagi sekedar uji coba yang dibesar-besarkan. Keempat kesebelasan yang berhak memperebutkan Piala Super Spanyol adalah finalis Copa del Rey dan dua kesebelasan tertinggi di La Liga. Tidak termasuk mereka yang sudah lebih dulu lolos dari jalur Piala Raja.

Untuk kampanye pertama di 2020, empat klub tersebut adalah Valencia CF (juara Piala Raja 2018/19), Barcelona (finalis Piala Raja 2018/19), Atletico Madrid (peringkat dua La Liga 2018/19), dan Real Madrid (peringkat tiga La Liga 2018/19). Real Madrid lolos karena Barcelona yang menjuarai La Liga 2018/19 juga merupakan finalis. Dengan format ini, Piala Super Spanyol menjadi turnamen tersendiri di sela-sela musim kompetisi. Bukan lagi penanda jelang kedatangan musim baru. Piala Super Spanyol bukan lagi digelar tahunan tapi mengikuti musim. Bukan lagi Piala Super 2019 atau 2020, tapi 2019/20.

Mengubah format Piala Super menjadi turnamen mini hanyalah pintu gerbang untuk RFEF mencapai target berikutnya, uang. Membicarakan uang dalam sepakbola sering kali dipandang negatif. Namun, kembali ke masalah pertama, nilai Piala Super sudah tidak lebih dari sebuah uji coba yang dibesar-besarkan.

Apabila Barcelona dan Real Madrid tidak membawa intrik El Clasico ke Piala Super Spanyol, sulit untuk melihat Camp Nou ataupun Santiago Bernabeu terisi hingga 90%. Bahkan ketika Barcelona menjamu Sevilla pada leg dua Piala Super Spanyol 2016, hanya 72,2% dari Camp Nou yang terisi. Waktu kedua tim bertemu lagi di 2018, kali ini bermain di Maroko, 84,45% dari Stadion Ibn Batouta terisi.

Jika warga lokal, terutama dari kesebelasan-kesebelasan yang memiliki stadion besar kurang antusias menyaksikan Piala Super Spanyol, pindah ke tempat netral dengan animo tinggi akan lebih menjanjikan untuk RFEF. Dengan begitu, warga negara asing akan semakin mengenal sepakbola Spanyol dan merasa menjadi bagian dari mereka.

Kontroversi Bermain di Luar Negeri

Membawa sepakbola Spanyol ke luar negeri sudah menjadi impian RFEF dan La Liga sejak lama. Mereka merasa bahwa sepakbola Spanyol masih kalah populer dibandingkan liga-liga lain di Eropa. Oleh karena itu, butuh untuk merambah pasar yang lebih luas dan keluar dari Spanyol. Setidaknya sejak 2018/19, La Liga berusaha membawa pertandingan mereka ke Amerika Serikat. Semua tertata dengan rapi sebelum para pemain menolak untuk pergi.

RFEF juga tidak mudah membawa Piala Super Spanyol ke Maroko di 2018. Sevilla menolak permintaan tersebut. Menyebut biaya akomodasi dan waktu yang dikeluarkan tidak sepadan. Padahal, dengan main di tempat netral, Piala Super Spanyol tidak lagi menggunakan sistem dua leg. Hanya satu pertandingan dan pemenangnya langsung jadi juara. Dengan kata lain tidak ada keuntungan untuk juara liga seperti tahun-tahun sebelumnya.

Saat turnamen mini untuk Piala Super Spanyol dicanangkan, Presiden La Liga Javier Tebas sempat melempar kritik ke RFEF. Menyebut Presiden RFEF Luis Rubiales tidak peduli terhadap sepakbola perempuan dan non-profesional di Spanyol dengan membuat format tersebut. Namun Rubiales mengatakan bahwa keberhasilannya membawa sepakbola Spanyol ke luar Negeri Matador adalah karena jadwal piala super lebih sederhana dan ringan dibandingkan liga. Bisa dibilang, ia menyebut Tebas iri karena gagal membawa La Liga ke Amerika Serikat.


Kontroversi Arab Saudi

Menggelar pertandingan kurang dari satu pekan membuat setiap peserta Piala Super Spanyol tetap memiliki waktu untuk istirahat untuk kembali ke ‘rutinitas’ mereka. Digelar saat Liga Champions UEFA libur, membuat setiap peserta hanya akan menjalani dua atau tiga pertandingan dalam sepekan. Bukan masalah besar untuk klub profesional. Tempat penyelenggaraan turnamen tersebut yang jadi masalah.

Mendapatkan tawaran dari Qatar dan India, RFEF memutuskan bahwa Piala Super Spanyol 2020 hingga 2023 akan diselenggarakan di Arab Saudi. Namun penyelenggaraan Piala Super Spanyol di Arab Saudi dinilai bukan tempat terbaik untuk mendapatkan publikasi positif. Perwakilan Kementerian Olahraga Spanyol María José Rienda mengatakan bahwa keputusan RFEF menggelar Piala Super Spanyol di Arab Saudi tak direstui negara. Sementara RTVE dan Mediapro mundur dari perebutan hak siaran karena alasan yang serupa. Membuat RFEF menunjuk Movistar+ dan DAZN sebagai pemegang hak siar.

https://twitter.com/arabnews/status/1189996936331513856″>

Perselisihan dengan pihak sponsor juga pernah dialami World Wrestling Entertainment (WWE) saat menggelar acara bertajuk SuperShowdown di Stadion Internasional King Abdullah, tempat yang sama dengan ajang Piala Super Spanyol 2019/20. Jadi ini bukan cerita baru. Sebelum RFEF menunjuk Arab Saudi sebagai tuan rumah, mereka juga sudah lebih dulu menjamu Lazio dan Juventus memperebutkan Piala Super Italia 2019. Itu adalah kedua kalinya secara beruntun Piala Super Italia digelar di Arab Saudi.

Piala Super Italia 2019 membuat kontroversi karena penonton perempuan dilarang untuk menyaksikan Cristiano Ronaldo, Ciro Immobile, dan lain-lain bertanding. Namun RFEF berjanji akan memastikan hak setiap penonton terlepas dari jenis kelamin mereka. Hanya waktu yang akan menjawab apakah hal itu menjadi kenyataan atau tidak.

Jika belajar dari WWE, ada peluang untuk perempuan masuk ke dalam stadion dan menyaksikan Piala Super Spanyol. Pasalnya, setelah mendapatkan kritik yang sama, pihak otoritas Arab Saudi mengizinkan WWE menggelar partai gulat profesional perempuan di negara mereka. Mungkin setelah dikritik karena Piala Super Italia, RFEF mendapatkan buahnya dan bisa membawa Kaum Hawa masuk ke stadion.

Jaminan Uang

Dengan atau tanpa penonton perempuan, yang jelas RFEF akan meraih keuntungan besar dari Piala Super Spanyol di Arab Saudi. Menurut Forbes, pihak asosiasi mendapatkan uang 30,38 juta Euro atau 473 miliar Rupiah per musim dari kesepakatan mereka dengan tuan rumah. Itu lebih besar dibanding Piala Super Italia yang mendapatkan 26,58 juta Euro atau 414 miliar Rupiah dari Arab Saudi.

Meskipun memberikan pertandingan lebih banyak dibandingkan Piala Super Italia, 9,8 juta Euro atau sekitar 152 miliar Rupiah per partai tetaplah besar untuk RFEF. Belum lagi ditambah uang dari siaran pertandingan, sponsor, dan lain-lain.

Akan tetapi setiap kesebelasan peserta mendapatkan uang jaminan yang berbeda-beda. Menurut Marca, Real Madrid dan Barcelona diberi uang saku 6,8 juta Euro hanya dengan ikut serta. Sementara Valencia dan Atletico Madrid mendapatkan 2,8 juta Euro.

Pembagian yang pandang bulu ini sempat diprotes oleh Valencia. Pasalnya jika mereka menjuarai Piala Super Spanyol sekalipun, pendapatan Los Che akan lebih rendah dibanding Barcelona dan Real Madrid. Selain uang jaminan tersebut, peserta yang kalah di semi-final akan mendapat tambahan 800 ribu Euro. Gagal di final mendapat hadiah 2,8 juta Euro. Sementara juara diberikan 3,8 juta Euro.

Total, apabila Valencia atau Atletico Madrid juara, mereka akan mengantongi 6,6 juta Euro. Sementara jika Real Madrid atau Barcelona tersingkir di semi-final, mereka akan pulang dengan pendapatan 7,6 juta Euro. Hal ini dilihat tidak adil oleh Valencia. Tapi, dibanding negara-negara lain, hadiah uang Piala Super Spanyol sudah tergolong besar. Community Shield hanya memberi 1,5 juta Euro, menang ataupun kalah. Sementara Piala Super Italia memberikan dana sebesar 2,5 hingga tiga juta Euro untuk pemenangnya.