Usai kalahkan Villareal dengan skor 2-1 di Santiago Bernabeu pada Kamis (16/7) waktu setempat, Real Madrid resmi dinobatkan sebagai juara La Liga musim 2019/20. Madrid unggul tujuh poin atas Barcelona di posisi kedua dengan sisa satu pertandingan. Gelar ini menjadi gelar liga pertama Madrid setelah dua musim Barca meraih trofi La Liga.

Madrid memang mengalami perkembangan usai Zinedine Zidane kembali sebagai manajer pada Maret 2019 lalu. Beberapa perubahan Zidane lakukan termasuk pada bursa transfer musim panas lalu. Salah satu yang mencuri perhatian tentu saja pembelian pemain bintang Eden Hazard dari Chelsea seharga €100 juta.

Meski Madrid tampil impresif musim ini, Hazard sebenarnya tidak banyak berkontribusi. Ia hanya mencatatkan 16 penampilan di liga dengan raihan satu gol dan enam asis. Pemain 29 tahun itu bolak-balik masuk ke ruang perawatan karena cedera. Ia juga tampak sulit beradaptasi dengan taktik yang diusung oleh idolanya itu. Selain itu, Madrid memiliki sejumlah pemain kelas dunia yang membuat Hazard tidak sebesar itu di Los Blancos.

Cedera yang Menyulitkan

Dilansir dari Transfermarkt, musim ini Hazard melewatkan 26 pertandingan bersama Madrid. Sebuah angka yang mengejutkan mengingat Hazard bukanlah pemain yang rentan cedera. Selama membela Chelsea sejak 2013, Hazard hanya melewatkan 20 pertandingan karena cedera. Hazard melewatkan lebih banyak pertandingan bersama Madrid dalam satu musim dibanding bersama Chelsea dalam enam musim.

Mengenai kondisi fisik, cedera bukan satu-satunya masalah yang dihadapi. Usai resmi dikenalkan sebagai pemain baru Madrid di Santiago Bernabeu yang dihadiri 50 ribu fans, Hazard pergi untuk liburan. Ia kembali dengan berat badan bertambah lima kilo.

“Itu benar, saya tidak berbohong. Tapi ketika saya sedang berlibur, saya berlibur. Berat badan saya bertambah lima kilo pada musim panas. Saya tipe orang yang naik dengan cepat tapi bisa turun dengan cepat juga. Pada musim panas saya 80 kilo, tapi saya turun (lima kilo) dalam 10 hari,” ungkap Hazard kepada L’Equipe.

Hazard juga mengalami kesulitan ketika pra-musim. Sebuah hal yang tidak wajar karena ia sebenarnya terbiasa dengan latihan berat pra-musim seperti yang diterapkan Antonio Conte dan Jose Mourinho. Secara usia, ia juga masih dalam usia emas pesepakbola.

Petaka hadir sehari sebelum La Liga dimulai. Cedera hamstring memaksa Hazard absen hampir sebulan. Ia kembali pada pertengahan September namun kembali masuk ke ruang perawatan pada bulan Desember. Thomas Meunier, kompatriot Hazard di timnas Belgia, melakukan tekel yang sebenarnya tidak keras namun membuat pijakan kaki kanan Hazard salah dan kaki kiri Hazard menghantam kaki kanannya sendiri. Cedera ini tepat berada di pergelangan kaki di mana ia pernah dioperasi pada 2017 lalu.

Berbagai masalah fisik tentu saja berpengaruh pada performa di lapangan. Lebih dari itu, sangat berpengaruh juga terhadap proses adaptasi Hazard di Madrid. Taktik Zidane yang berbeda membuat Hazard harus beradaptasi, namun cedera benar-benar menyulitkan proses itu.

Kesulitan Adaptasi Taktik

Kondisi fisik yang tidak ideal mengganggu proses adaptasi Hazard di Madrid. Hal ini diperparah dengan perbedaan taktik dengan tim sebelumnya, terutama dari segi kebebasan. Ketika di Chelsea, Hazard merupakan pemain yang sangat diberi kebebasan. Musim ini bersama Madrid, ia bukan satu-satunya pemain yang diberi kebebasan.

Hampir semua penyerang Madrid diberi kebebasan untuk bergerak. Namun yang paling berpengaruh bagi Hazard adalah Karim Benzema. Benzema merupakan striker yang gemar melebar, terutama ke sisi kiri. Performa Benzema meningkat drastis usai Cristiano Ronaldo hengkang ke Juventus, termasuk pada akhir musim lalu ketika Zidane masuk sebagai manajer. Oleh karena itu, Zidane tentu tidak ingin merusak penampilan apik Benzema.

Striker asal Perancis itu masih diberi kebebasan untuk melebar ke kiri. Hal ini menyebabkan Hazard harus mencari posisi lain, entah itu bermain lebih ke bawah atau mengokupansi half space. Situasi ini sering terjadi, contohnya pada gambar di bawah ini ketika Madrid melawan Espanyol bulan lalu.

Ketika di Chelsea, Hazard tetap berada di posisi yang tinggi ketika Chelsea bertahan. Ia biasa mendapatkan bola di area lapangan lawan atau bahkan sepertiga akhir lapangan. Keberadaan Benzema membuat Hazard kerap menjemput bola di daerah yang rendah. Berdasarkan data dari Fbref, jumlah sentuhan per 90 menit Hazard meningkat di sepertiga awal lapangan dan menurun di sepertiga akhir lapangan.


Sentuhan Eden Hazard Selama Tiga Musim Terakhir
Musim

Klub

Sentuhan
1/3 awal 1/3 tengah 1/3 akhir
2017/18 Chelsea 3.75 27 41.7
2018/19 Chelsea 3.88 28.5 51.5
2019/20 Real Madrid 6.5 27.6 34

Heatmap juga menggambarkan cerita yang sama. Bersama Chelsea, Hazard banyak beroperasi di sepertiga akhir lapangan. Setelah gabung Madrid, Hazard lebih sering beroperasi di sepertiga tengah lapangan.

Dampaknya adalah kontribusi Hazard terhadap proses gol, baik itu dalam catatan gol maupun asis. Ketika mendapatkan bola di area yang tinggi bersama Chelsea, Hazard dapat melakukan dribel berbahaya untuk kemudian melepaskan tembakan atau memberi umpan. Perbedaan area permainan Hazard membuat ia tidak banyak melakukan hal spesial tersebut di Madrid. Tabel di bawah ini menunjukan penurunan kontribusi Hazard terhadap gol per 90 menit. Baik itu gol, asis, xG (expected goal), dan xA (expected assist).

Kontribusi Terhadap Proses Gol Per 90 Menit Eden Hazard Selama Tiga Musim Terakhir
Musim Klub Kontribusi per 90 Menit
Gol Asis xG xA
2017/18 Chelsea 0.45 0.15 0.3 0.28
2018/19 Chelsea 0.49 0.46 0.34 0.28
2019/20 Real Madrid 0.08 0.25 0.22 0.23

Kombinasi klasik Hazard membiarkan bola lewat di antara kakinya untuk kemudian diterima Olivier Giroud juga sulit dilakukan bersama Benzema. Kombinasi ini bisa dilakukan jika pemain yang mengumpan, Hazard, dan striker berada pada satu garis yang sama. Namun mobilitas Benzema membuat ia tidak berada pada posisi yang tepat untuk melakukan kombinasi ini.

Tidak adil jika menyalahkan Zidane yang membiarkan Benzema melebar ke kiri. Hal tersebut terbukti sukses dan sudah terlebih dahulu ada dibanding Hazard. Di sisi lain, Hazard tetap harus diberi panggung terbaiknya yaitu di sepertiga akhir lapangan. Menarik dinanti bagaimana Zidane mengeluarkan kemampuan Hazard musim depan.

Hazard Tidak Sebesar Itu di Madrid

Meski dibeli sebagai bintang Premier League dengan koleksi trofi yang tidak dapat diremehkan, Hazard bukan satu-satunya bintang di Madrid. Tidak seperti di Chelsea di mana ia merupakan pemain yang sangat menonjol. Chelsea cukup bergantung pada Hazard namun eks pemain Lille itu sukses memikul beban yang berat. Justru ketika Hazard bergabung dengan tim yang tidak bergantung padanya, ia gagal bersinar.

Hal ini terlihat pada dua bulan pertama ketika performa Hazard kurang impresif. Ia sendiri menyadari kesalahan itu. “Saya tidak melakukan semua hal dengan benar pada dua bulan pertama. Saya berkata pada diri sendiri ‘kamu terlalu simpel’. Terlalu banyak mengumpan, orang menunggu saya untuk dribel,” ujar Hazard.

Permainan Hazard yang terlalu simpel itu dipengaruhi oleh sejumlah pemain menyerang yang bisa memberi perubahan secara konsisten. Sebagai perbandingan, Bruno Fernandes tampil luar biasa meski baru bergabung dengan Man United pada musim dingin. Salah satunya karena tidak banyak pemain Man United yang mampu memberi perubahan secara konsisten sehingga semua orang mengharapkan Bruno. Pemain Portugal itu sukses memenuhi ekspektasi dan berkontribusi banyak.

*

Sulit dipercaya melihat pemain sekaliber Hazard tidak bersinar di Madrid. Namun ia masih memiliki waktu untuk membuktikan label pemain bintang yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak banyak diganggu cedera, siap berkompetisi secara fisik, jalan tengah soal taktik ditemukan, dan Hazard menunjukkan untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi pemain bintang di Madrid, bukan tidak mungkin Hazard bisa mengulang atau bahkan berkembang pada musim depan.